Archive Page 2

Prosedur Yudisium dan Wisuda Prodi Ilmu Komputer UGM

Bismillah

Biar ndak lupa, ditulis aja lah nih.. (baca: diingat-ingat atau di bookmark page, atau di copy-paste sekalian tulisan ini. red)
0. Setelah ujian pendadaran (gimana, biasa2 aja kan?), biasanya Anda harus revisi. Jarang ada yang lulus tanpa revisi, mungkin biar dosen pengujinya nggak terlihat dosen kacangan kali ya? Nah, cepet ituh dikerjain.. Jangan pesta pora dulu, Bung. Perdjoeangan kita masih panjang..

1. Setelah revisi, dapet 3 tanda tangan, 1 dosen pembimbing dan 2 dosen penguji. Order doesn’t matter, yang penting dapet semuanya. Lapor ke prodi, biar nilainya keluar. Kalo gak A ya B.. Gak mungkin C, santai ajah..

2. Setelah dapet berita acara ujian tugas akhir dari prodi, segera ke Mipa Utara, minta transkrip yudisium, gratis. Biasanya sehari jadi. Di situ ada berkas pendaftaran yudisium, sama transkrip ( yang beda dengan transkrip biasa, coz di situ ada tempat untuk tanda tangan dosen wali)

3. Di berkas pendaftaran yudisium, ada 11 item yang harus dikumpulkan, cuma untuk ilmu komputer, cuma perlu 9
a. berkas pendaftaran yudisium. Perlu ditandatangani dosen wali.
b. SBPP (lupa kepanjangannya, kalo ga salah surat bebas pinjam pustaka, minta dari UPT, bayar 15000, syaratnya cuma nunjukkin KTM, 10 menit jadi)
c. Surat Bebas Pinjam yang dari Perpus MIPA (lupa namanya apa, bayar 3000 plus syarat KTM, dan harus sudah selesai pendadaran). 10 menit jadi.
d. nilai tugas akhir (udah dapet dari prodi kan?)
e. surat bebas pinjam alat. Minta ke gedung pusat, lantai pertama, bagian utara, pintu pertama dari tengah balairung ke utara, biro kemahasiswaan dan alumni, syaratnya cuma nunjukkin KTM.
f. Transkrip nilai (dibendel sama berkas pendaftaran yudisium) (sudah ditandatangani oleh Dosen Wali)
g. surat penyerahan skripsi ke Perpus MIPA. Ini yang agak ribet. Untuk dapetin surat ini, ente harus: jilid hardcover skripsi (warna ditentukan perpus), ringkasan (softcover), sama file skripsi dalam bentuk PDF dalem CD.
h. KHS semua semester, minta ke MIpa Utara, biayanya seceng (seribu) per semester. Empat taon? Yah, dikali delapan ajah…
i. Copy Bukti pembayaran BOP/SKS semester terakhir.

4. Setelah semua syarat lengkap, ke Mipa Utara, cari Pak Anton. Kalo malu nanya, cari ajah yang duduknya di depan Pak Joko. Gak tau sama Pak Joko? Anda ini udah berapa lama to Mas di UGM? Ya udah, cari aja yang megang pulpen pake tangan kiri, monitor komputernya HP 5500. Serahin semuanya ke beliau. Biasanya dicek jumlah sksnya, apa saja mata kuliah yang dihapus, dsb.

5. Anda sudah siap untuk yudisium. Setelah itu, kita mesti bayar pendaftaran wisuda. Silakan lihat pengumuman lebih lanjut di papan pengumuman. Biasanya berisi :
- uang yang harus dibayarkan.
- kapan wisuda untuk S1/D3
- Kapan mesti ambil toga, dll yang remeh temeh
Syaratnya biasanya standar: fotocopy ijazah terakhir sama bayar (untuk februari tahun 2009 ini, biayanya sapekceng alias 300rebu)

6. Sisanya ngikutin aja apa kata Fakultas. Selamat jadi orang bloon di Grha Sabha Pramana.. :D

F A Q :
Saya belum dapet 3 tanda tangan dosen, gimana dong?
Minta surat sakti dari ketua prodi, isinya memo yang membolehkan mahasiswa mendaftar yudisium walau syarat belum lengkap. Kemukakan alasan Anda, misal “dosen pembimbing saya tiba2 harus terbang ke seminar di Zimbabwe, lebaran tahun depan baru pulang..”

bukti pembayaran BOP/SKS saya hilang
Minta dari pengajaran, biasanya sih gratis. Ntar diprintkan yang baru

Ngejilid skripsi kan baru bisa selesai 3 hari lagi? Terus gimana dong?
Gampang. Ke Perpus, bilang minta suratnya dulu, terus tinggalin SIM ato STNK (ga boleh KTM or KTP, ga pake..), dan kasih tahu kapan jilidannya jadi. Kalo mau kilat juga bisa sebenernya, harganya kisaran 13-18rebu, sehari jadi.

Kok urusan remeh ajah mbayar?
Selamat Datang di Indonesia, Juragan…

Kapan biasanya batas akhir peneyerahan berkas yudisium?
Tergantung, kalo normalnya sih, 3 minggu sbelum wisuda. Wisuda di UGM kan biasanya selalu ngambil tanggal 19 dan sekitarnya, jadi mungkin di akhir bulan sebelumnya harus sudah beres semua.

Dari hari ujian tugas akhir sampai batas akhir penyerahan berkas untuk yudisium, saya hanya punya waktu seminggu, emang cukup?
Cukup. Lakukan apa yang bisa dilakukan hari ini:sediain foto, nyari Ijazah, cari syarat yudisium yang gak ada dependensinya, dll. Di sinilah Anda akan belajar betapa berharganya waktu. *omongan Bapak2…*

Waktu pendadaran, saya dibantai habis2an, akibatnya revisi saya seakan-akan mengharuskan saya membuat ulang skripsi. Bagaimana seharusnya?
Cengeng sekalee.. Revisi seperti yang dibilangin dosen penguji, besok langsung cari lagi beliau. Setelah dua kali dateng, gak mungkin gak dapet tanda tangan. Tapi, gak tau ya kalo situ ngarepin dapet A, berarti revisi kudu bagus2..

Bang, bang, ngapain nulis yang beginian?
Gak bisa tidur, Neng…

*tentang si abang penulis*

P. Mulia, seorang kolumnis terkenal di desanya (atau seorang kolumnis di desa yang terkenal? .red),  sering menulis untuk halaman pribadinya, tulisan-tulisannya mengalir deras tanpa peduli dilirik banyak orang atau tidak. Telah mendahului teman-temannya (baca: lulus .red), kemudian pulang ke rimba Borneo untuk mengabdiken ilmu yang didapat, mengasah pribadi, dan kemudian, entah masih atau tidak, mengukir cinta.

Tips Tugas Akhir: Sebelum Pendadaran (oleh: P.Mulia)

Bismillah

0. Banyak berdoa. Sholat tahajud, dzikir, baca quran. Yang jarang ke gereja, ke gereja. Bakar menyan, mandiin keris, atau apa kek…

1. Pahami betul yang Anda tulis. Kalau perlu hapalkan halamannya, jadi pas ditanya dosen penguji, bisa langsung jawab,”itu sudah saya tulis di halaman 129 baris ke sembilan belas Pak..”

2. Kenali karakter dosen penguji. Apakah Bapak tersebut suka menanyakan hal teknis, atau filosofis? Hal teknis misalnya, “procedure foo yang Anda taruh di lampiran, halaman xx, bisa tolong jelaskan?” atau “bagaimana program Anda mengenali citra yang begini dan begitu?”. Kalau hal filosofis misalnya,”mengapa Anda pilih fakultas xx sebagai studi kasus?” atau “Apa sih sebenarnya tujuan hidup Anda?”

3. Minta dukungan dari teman-teman dan orang2 terdekat. Bagaimanapun, pendadaran itu perkara mental saja. Kalo yang teknis2 sih gampang.

4. Latihan, latihan, latihan. Ada baiknya ada teman2 satu lab yang “membantai” Anda. Jadi, ada simulasi pendadaran. Terus teman2 Anda “mengeroyok” dengan pertanyaan2 keji dan mungkar. Mending kalo Anda bisa cari jawabannya sekalian, biar nanti pas ditanya udah siap.

5. Mandi aer hangat, pake baju yang rapi (kemeja putih, dasi, baju batik, sepatu mengkilap), tunjukkan kalau Anda menghormati penguji dan peserta sidang. Ini perkara intelektual, Bung..

6. Terakhir: GUGUP sebelum sidang itu biasa. Saya kemarin sampe mencret2 (mungkin karena stress dicampur maag akut). Tapi, begitu kalimat pembuka dari Anda muncul, semuanya jadi mengalir begitu saja. Segalanya tidak sesulit yang kita bayangkan. Betul apa kata teman saya, “dosen penguji tuh sok tahu, padahal ndak ngerti apa2 soal TA kita”

Yak, selamat pendadaran. :)

*tentang penulis*

P. Mulia, seorang kolumnis terkenal di desanya, masih sering menulis untuk halaman pribadinya, tulisan-tulisannya mengalir deras tanpa peduli dilirik banyak orang atau tidak. Lulusan Fakultas Djaman Belanda, Djurusan Hitung Menghitung dengan Program Studi yang tidak usah disebut namanya. Lepas dari candradimuka, kemudian pulang ke haribaan Borneo untuk mengabdiken ilmu yang didapat, mengasah pribadi, dan kemudian entah masih atau tidak, mengukir cinta.

Tips Mengerjakan Tugas Akhir (oleh: P. Mulia)

Bismillah

Mengerjakan tugas akhir ituh seperti nguras bak mandi pake sendok, nguras sumur pake gayung, ato mungkin nguras laut pake ember, alias lama, ribet, dan kudu sabar. Tapi, kalo kita yakin bisa, segala sesuatu pasti tidak sesulit yang dibayangkan.

Berikut tips-tips untuk yang sedang mengerjakan tugas akhir. Selamat menikmati (halah, kayak tulisan di kotak makan)

0. Menjaga semangat
Jaga semangat itu menurut pengalaman saya adalah hal yang paling susah. Apakah Anda baru termotivasi kalau:
- deadline progress report presentation tinggal 2 hari lagi
- Ibu Anda setiap habis shubuh selalu telpon “kapan Ibu dateng wisudamu?”
- setiap kali ketemu teman, percakapan tidak jauh2 dari “kapan lulus?”
Apapun alasannya, entah itu calon mertua yang ingin menantu seorang sarjana, jalan2 ke luar negri, apapun, jadikan itu motivasi paling ampuh untuk menjadi seorang replika karyawan seven eleven: melototin monitor komputer dari jam 7 pagi sampe 11 malam, demi skripsi.

1. Jangan diam
Kalau tidak bisa melaju kencang, berlarilah. Kalau tidak bisa berlari, berjalan cepat, atau merangkak kalau perlu. Yang pasti, jangan cuma berkutat di Bab yang melulu itu. Kalau Anda mahasiswa TI, pasti sudah tidak asing dengan reverse engineering. Bukan, bukan re itu, tapi mengerjakan Bab 4 duluan baru Bab 2 dan 3. Artinya, programnya sudah jadi duluan, baru ada desainnya. Seperti membangun rumah sebelum merancang pondasi. Tapi tak apa, banyak yang mencoba, dan berhasil kok. :D Intinya, kerjakan apapun yang bisa duluan.

2. Penelitian Anda adalah penelitian terhebat sepanjang masa
Tidak percaya diri dengan tema penelitian Anda? Sering dibilang “tema kacangan”? Apapun komentar negatif teman, dosen, siapapun, jangan terlalu dipedulikan. Itulah mengapa pada tulisan sebelumya saya sarankan untuk memilih dosen yang sudah senior (minimal PhD, lulusan dari luar negri, or apa kek yang keren.. :D ). Ini gunanya waktu Anda dapet kondisi yang macam begini. Kalau ada dosen yang mempertanyakan penelitian Anda, jawab “Eh, supervisor gua tuh dapet PhD dari Blablabla University (sebutkan nama universitasnya) tauk! Hla ente kan cuma lulusan S2 lokal? Lulus pas-pasan lagi.. Berani2nya kasih komentar kalo skripsi saya yang sudah di-acc beliau gak valid?”

3. Tunjukkan kepada dosen pembimbing bahwa Anda dapat diandalkan
Anda sudah lama tidak menghadap dosen? Atau (lebih parah) sudah lupa nama panjang beliau? Tenang, semuanya tidak akan sesulit yang kita bayangkan. Kalau ditanya “kok ndak keliatan?”, bilang aja “saya kawin Pak” atau “saya sibuk ternak sapi”. Kalau katanya komik 20th century boys, “kalau kamu tidak punya hal baik untuk dikenang, masih ada waktu untuk membuatnya, dari sekarang”.

Kalau disuruh datang jam 12, datanglah jam 12. Kalau disuruh menunggu, menunggulah. Kalau disuruh menghapus dua halaman yang Anda buat sampai tidak tidur, hapuslah. Lakukan apapun yang disarankannya, dan jadilah robot. Santai, ini tidak akan selamanya. Yang penting, berikan persepsi bahwa kita ini bener2 niat mengerjakan skripsi. Setiap selesai bimbingan, bilang terima kasih, dan tanya kapan beliau ada waktu lagi. Bergairahlah. Dan dunia akan turut bergairah.

4. Berkumpullah bersama orang2 yang tepat
Bergaul bersama kawan2 seperdjoeangan(baca:yang juga bersemangat mengerjakan TA) tentu membantu banyak. Anda bisa tanya kalau ada masalah, tukar pikiran bila ragu, atau koreksi bila salah. Kalau kumpul dengan yang kerjaannya maen gitar atau Football Manager, yaah.. selamat datang saja di The Procrastinator Club. And prepare for your two digits semester..

5. Projects are evil
Suatu waktu, Ayah saya pernah bilang “biasanya kalau kamu udah bisa ngerasa cari duit sendiri, sekolahmu kacau”. Istilah lainnya, “money, woman, education. Take any two”. Kalau ada tawaran project besar, jangan diambil dulu. Nanti2 saja. Ingat, ijazah terakhir Anda baru ijazah SMA.

“Tapi, kan duitnya bisa buat tambahan beli PSP?” Ya, memang sih, tapi nanti berlanjut terus untuk project2 lainnya. Anda berputar2 di situ saja, dan skripsi pun jadi terbengkalai. Nah, harus ada yang dikorbankan. Harus ada. Saya jadi ingat salah satu quote di FMA.

Humankind cannot gain anything without first giving something in return. To obtain, something of equal value must be lost. That is alchemy’s first law of Equivalent Exchange. In those days, we really believed that to be the world’s one, and only truth

Itu saja dulu. :)

*tentang penulis*

P. Mulia, seorang kolumnis terkenal di desanya, sering menulis untuk halaman pribadinya, tulisan-tulisannya mengalir deras tanpa peduli dilirik banyak orang atau tidak. Menempuh pendidikan di Pulau Jawa, Fakultas Djaman Belanda, Djurusan Hitung Menghitung dengan Program Studi yang tidak usah disebut namanya. Lepas dari candradimuka, kemudian pulang ke haribaan Borneo untuk mengabdiken ilmu yang didapat, mengasah pribadi, dan kemudian mengukir cinta.

Curhat

Suatu siang di taman Kantin Milan.

Oknum 1 : Wah ini blog ilkom kehabisan bahan, ada saran?
Oknum 2 : Bagaimana kalau tulis curhatan Abhi dan Pepe yang ditinggal kekasih ke Jakarta?
Oknum 3 : Loh emange Ari di Jakarta? PKL?
Abhi : Sudah bekerja, sejak 4 bulan lalu.
Oknum 1 : Heh, apa Bhi? Kerja? Tidak malukah dirimu?
Abhi : Malu? Hah? Buat apa..
Oknum 1 : Ah yang bener?

Sejurus kemudian.

Abhi : Yo piye maneh…

Menangis pilu.

Ucapan Terima Kasih

Kepada :

1. Ananda Landhes Bregas Manuhara, selaku fotografer.
2. Ananda Genta Wibowo, selaku fotografer juga.
3. Adinda Aulia Reza Rahmani, selaku.. Selaku apa ini? Asistennya Mas Landhes atau “asisten”-Mas Landhes.
4. Kampus MILAN UGM, selaku tuan rumah.
5. Segenap pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Terima kasih atas kesediaannya mewujudkan salah satu impian Ilmu Komputer UGM 2004. Semoga mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat, untuk balasan di dunia mintalah kepada ketua angkatan Ilmu Komputer UGM 2004.

Sayembara

Tidak mau kalah dengan kegiatan perkuliahan, tayangan tipi dan kethoprak radio, kali ini akan diadakan semacam sayembara bagi pembaca setia blog ini. Tidak tersedia dua hadiah menarik dari admin bagi pemenang sayembara ini (pegimana mau ngasih hadiah kalau tidak ada sponsor, teman-teman yang sudah berpenghasilan, mana kontribusi kalian untuk blog ini? Dan bagi kalian yang belum lulus, lekaslah lulus. Kata Bu Dosen Afia, akreditasi Ilmu Komputer UGM terancam turun karena mahasiswa yang lulus tepat waktu kurang dari 20%. Hahay.. Kami kan masih cinta kampus, tega-teganya kalian mengusir kami.)

Begini kasusnya, perhatikan baik-baik dan cermati dengan seksama kata demi kata, huruf demi huruf atau Anda akan kehilangan fakta-fakta penting..

Tepat pada Hari Raya Nyepi 2009, Yani mendapatkan sebuah undangan dari rekan sekantornya di lab komputer FE UGM. Undangan pernikahan tepatnya. Karena malu datang kondangan sendiri, diajaknyalah tiga rekan sejawatnya untuk menemaninya menghadiri undangan pernikahan teman kantornya di daerah Muntilan. Tiga rekan yang beruntung itu adalah Septo, Sympati dan Wiwid.

Dikarenakan kondangan dilangsungkan di daerah Muntilan, maka rumah Wiwid yang berada di Jalan Magelang dijadikan tempat berkumpul empat orang itu dengan alasan efisiensi dan efektivitas.

Seperti biasa, meskipun efisiensi dan efektivitas dijadikan alasan namun tetap tidak bisa mendobrak adat istiadat yang sudah menahun dan berakar kuat di Ilmu Komputer UGM 2004 : Pantang berkumpul tepat waktu. Janjian jam sembilan pagi tetapi Sympati baru datang jam setengah sepuluh. Wiwid sendiri masih nongkrong di depan tipi.

Wiwid : Tak kirain nggak jadi..
Sympati : Anak-anak mana?
Wiwid : Justru itu Sym, anak-anak belum pada dateng, makannya tak kirain nggak jadi.

Jam 10 pagi Septo dan Yani baru tiba.

Wiwid : Jadi saya mbonceng Sympati?
Septo : Wah masak dikau tega motor Star ini dibawa sampai ke Muntilan. Kalau berangkatnya saya yakin bisa sampai ke Muntilan. Tapi pulangnya mungkin sudah jadi artefak, fosil. Maka dari itu gunakanlah Supramu W. Kalau perlu pakai mobil juga tiada mengapa.
Wiwid : Gembel, merepotkan.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, perang argumen sampai debat kusir, diputuskanlah tiga gembel itu diangkut dengan sedan yang dikemudikan oleh seorang sopir. Jogja memang panas akhir-akhir ini dan sangat tidak bijak apabila pergi ke Muntilan dengan naik motor. Di samping banyak polusi di jalan, teriknya sinar mentari yang menyapa bumi akan membuat kulit hitam. Belum lagi Yani yang bermotor dari Glagahsari sampai Jalan Magelang sudah bermandi keringat di sekujur tubuhnya, mau jadi apa kalau dia naik motor sampai ke Muntilan. Mungkin jadi tambang oli.

Septo : Kamu nggak nyumbang Yan?
Yani : Oh iya.. Mana duitnya ya.. xxx puluh ribu cukup nggak ya?
Septo : Wah kere dikau, malu-maluin aja. Kan dikau udah kerja Yani. Menguap kemana gajimu itu, sepengetahuanku belum ada gadis yang menjadi tanggungan dikau.
Yani : Beta memang sudah kerja, tapi gajinya tiada seberapa.
Septo : Ya udah, seadanya saja.
Sympati : Sep, pinjem duitmu dulu buat nyumbang.
Wiwid : Uang saya di dompet tinggal 50ribu, buat jaga-jaga kalau bensinnya habis. Jadi saya tidak ikut menyumbang saja. Maap. Lagi kere.
Septo : Oh tiada mengapa. Ngomong-ngomong mana amplopnya Yani?
Yani : Waduh, beta lupa.. Nanti beli saja.
Septo : Ah tiada perlu, daku ada kertas. Kita bikin saja amplopnya.

Septo mengeluarkan buku tulis dari tasnya kemudian menyobek selembar kertas yang dilipatnya sedemikian rupa sehingga menyerupai sebentuk amplop yang dipaksakan.

Yani : Hyaa.. Kok amplopnya bergaris. Mana ada amplop bergaris. Gila aja.
Septo : Adanya ini Yani, jangan protes.
Yani : Malu Septo.
Wiwid : Ya sudah cari warung saja, beli amplop yang lebih manusiawi.

Sebelum ke pesta pernikahan, disempat-sempatkanlah membeli amplop yang layak meskipun isinya sebenarnya kurang layak.

Septo : Perlu dikasih nama Yan?
Yani : Tidak perlu!

Selanjutnya yang terjadi di tempat kondangan tidak perlu dijelaskan secara rinci. Orang-orang dengan nafsu makan budak dihadapkan dengan sajian hidangan prasmanan. Tidak etis kalau kejadian berikutnya dijelaskan dengan terperinci. Aib!

Setelah puas memperturutkan hawa nafsunya, keempat orang tadi bingung.

Wiwid : Pulang kita?
Yani : Hyuuk..
Septo : Mumpung deket Borobudur mampir aja ke sana.
Wiwid : Ngapain? Panas, malas.
Sympati : Oh iya, kesana aja Wid. Aku ada perlu.
Yani : Hyuuk..

Mobil dipacu menembus jalanan beraspal. Tidak lama kemudian nampak sosok Candi Mendut.

Wiwid : Apa ke Candi Mendut saja, lebih sepi. Nggak capek, daripada ke Borobudur.
Sympati : Borobudur saja. Penting ini!

Beberapa saat kemudian.

Yani : Candi Mendutnya mana coy..?
Septo : Lu bego kagak ngerti. Itu tadi bangunan gede di sebelah kanan jalan emangnya apa Yan? Lu ngomong doang yang kota, pikiran kampung.
Yani : Oh iya to? Udah lewat to?

Sampai di pertigaan menjelang Candi Borobudur.

Wiwid : Ni depan lurus atau belok kanan?
Septo : Lurus aja..

Nampak Candi Borobudur di ujung jalan. Stupa puncaknya terlihat samar di sela-sela rimbunnya pepohonan.

Wiwid : Yakin jadi ke Borobudur? Masuk parkiran ni?
Septo : Yakin, masuk saja.
Sympati : Iya, sekalian aku mau survey untuk acara sekitar bulan Juli. Mumpung sudah sampai sini, sekalian.
Wiwid : Trus mana parkirannya.
Septo : Itu, depan masuk aja.

Mobil dibawa masuk ke parkiran Candi Borobudur. Petugas parkir sudah menunggu di gerbang parkiran.

Petugas parkir : Selamat siang, selamat datang di Candi Borobudur.
Wiwid : Bayarnya kapan Pak?
Petugas Parkir : Nanti di pintu keluar. Silakan masuk, nanti lurus trus parkiran mobil di sebelah kanan.

Sampai parkiran Wiwid masih ogah-ogahan beranjak dari jok mobil. Setelah dipaksa menuruti nafsu anak-anak terpaksalah ia berjalan bersama ketiga temannya ke tempat loket penjualan tiket.

Wiwid : Ndak usah masuk, panas. Mahal.
Septo : Mumpung udah di sini, sekalian masuk saja.
Yani : Tapi beta tiada bawa duit, duitnya sudah habis di kondangan tadi.
Septo : Santai, ada si bos Sympati.
Sympati : Bentar, tak survey dulu. Mau tanya harga tiket untuk rombongan.

Sympati bergegas mengantri di loket penjualan tiket sementara Wiwid masih bermalas-malasan masuk ke Borobudur. Yani yang semakin berkeringat karena melihat harga tiket yang cukup mencekik. Sedangkan Septo sibuk mengumpulkan recehannya sampai terkumpul uang sejumlah 7500 rupiah. Sesuai dengan daftar harga tiket yang tertera di loket penjualan.

Septo : Ni Sym, 7500. Buat beli tiket… Eh lha eh.. 7500 kok buat anak di bawah umur enam tahun. Di atas enam tahun.. 15ribu rupiah.

Sympati tidak mempedulikan Septo yang masih mengais recehan di setiap saku pakaiannya. Wiwid dan Yani masih ogah-ogahan sementara Sympati mulai mencari informasi.

Sympati : Mbak kalau mau ada kunjungan rombongan ada potongan biaya masuk nggak? Trus gimana prosedurnya?
Penjual Tiket : Oh, masnya nanya aja ke bagian informasi.
Sympati : Dimana mbak?
Penjual Tiket : Itu di dalam, masuk aja.

Sympati segera bergerak menuju bagian informasi yang letaknya ada di dalam kompleks candi. Untuk ke bagian informasi harus melewati pemeriksaan tiket.

Sympati : Mau ke bagian informasi pak.
Penjaga Pintu Masuk : Oh ya, silakan.

Sympati memberikan kode. Septo, Wiwid dan Yani segera menyusul jejak Sympati.

Septo, Wiwid, Yani : Ke bagian informasi juga pak.

Empat orang sukses masuk ke kompleks candi tanpa tiket.

Wiwid : Wah ini, kesempatan. Lumayan hemat 15ribu, kalo berempat bisa hemat 60ribu.
Septo : Betul, tepat sekali.
Wiwid : Eh, tapi ini tidak boleh, dosa namanya. Masuk neraka.
Septo : Biarkan Sympati yang menanggung dosanya, kecuali dikau mau turut menanggung beban dosanya.
Wiwid : Naudzubillahimindzalik, saya ikhlas Sympati menanggungnya.

Tanpa merasa berdosa, keempat orang itu melangkah pasti ke bagian informasi. Tidak ada tindakan dari pengurus setempat.
Di bagian informasi, Sympati dibantu ketiga rekannya mulai menjalankan modus operandinya : Pura-pura Survey.

Sympati : Eh, kayaknya ada yang membuntuti kita. Itu bapaknya yang lagi duduk di bangku.

Seorang lelaki yang berpakaian safari memang nampak duduk di sebuah bangku panjang yang terletak dekat bagian informasi. Sesekali matanya mengawasi gerak-gerik empat orang yang sedang mencari informasi di bagian informasi.

Sympati : Oh, gitu mbak. Kalo mau naik kereta itu gimana prosedurnya?
Petugas Informasi : Masnya nanya langsung aja ke sana.

Setelah dirasa cukup mendapatkan berbagai prosedur kunjungan di bagian informasi, Sympati dan rekan-rekannya segera berpindah tempat lagi menuju loket penjualan tiket kereta yang berada di dalam lingkungan kompleks candi. Seorang lelaki masih nampak mengawasi gerak-gerik mereka. Sympati memutar otak, bagaimana caranya agar mereka bisa lepas dari pengamatan lelaki tadi.

Sympati : Beli tiket keretanya empat mbak. Ayo naik, tapi yang di belakang saja, di gerbong yang ada di balik bangunan loket penjualan tiket kereta. Biar nggak keliatan.

Sympati memang melihat si lelaki agak mengendurkan pengintaiannya dan begitu melihat si lelaki mengalihkan pandangannya, mereka berempat segera menyelinap di balik tembok. Beberapa saat kemudian kereta mulai berjalan.

Yani : Tidak ada yang mengikuti kita kan.
Sympati : Jangan melihat ke arah pintu masuk.
Septo : Memangnya kenapa?
Yani : Tidak ada motor atau sepeda yang mengikuti kita kan?
Wiwid : Tidak ada Yani.

Kereta berjalan mengelilingi Candi Borobudur dan berhenti di bagian selatan candi.

Sympati : Sukses..

Dan apa yang terjadi berikutnya juga tidak perlu diceritakan secara mendetail. Intinya keempat orang ini hanya “survey”. Kalau ada yang menanyai : Kenapa tidak beli tiket? Jawabannya adalah : Survey.

Petualangan keempat orang itu terpaksa dihentikan karena Yani ada urusan mendadak.

Yani : Saudara beta ada yang meninggal. Harus cepat-cepat pulang untuk melayat.

Keempat orang itu kemudian kembali ke parkiran mobil. Tiap bertemu satpam, mereka memasang tampang tidak berdosa dan apabila terjadi penahanan, keselamatan diri ditanggung sendiri. Pura-pura tidak kenal.

Tidak ada petugas yang datang. Selamatlah mereka sampai ke parkiran mobil untuk segera kabur dari TKP.

Wiwid : Pintu keluarnya mana ya?

Wiwid sebagai sopir masih bingung berputar-putar di parkiran mencari pintu keluar.

Septo : Itu lurus aja, ada tulisan pintu keluar.

Di dalam mobil sepulang dari Candi Borobudur.

“Akhirnya setelah lebih dari 20 tahun, untuk pertama kalinya saya ke Borobudur”

Pertanyaan sayembaranya adalah :
Mengumpulkan dan menyimpan sementara pesan-pesan merupakan tugas…
a. front end processor
b. concentrator
c. controller
d. multiplexer

Eh maap, itu soal ujian SI milik Didit. Pertanyaan sayembara sebenarnya adalah:

“Siapakah diantara empat tokoh di atas yang baru pertama kali mengunjungi Candi Borobudur?”

a. Septo
b. Sympati
c. Wiwid
d. Yani
e. Semuanya belum pernah

Bagi yang terlibat dalam cerita ini dilarang keras mengikuti sayembara tanpa hadiah ini.

Insyaalloh

Selepas sepakbola Liga Himakom.

Septo : Jadi menurut hadis riwayat Mbuh Sapa dan Bukan Muslim.. Saya cuma menyampaikan apa yang diriwayatkan Didit.
Deni : Masuk neraka kowe Meng!
Didit : Insyaalloh, Insyaalloh Anda saya ajak juga.

Bertambahlah penghuni neraka.

Kompresor

Suatu malam di perempatan Mirota Kampus.

Wiwid : Dut, Jupiter MX yang kayak apa?
Didit : Sik ngarepe gede, ada kompresornya.

Motor atau pompa angin?

W.O.

Sepakbola di Lapangan Kentugan.

Pepe : Itu kipere Ilmu Komputer UGM 2006 siapa? Tinus? Kok nggak pernah keliatan? Sudah di W.O. po?
Angga : D.O.

Perekat

Suatu siang di kantin MILAN.

Didit : Tiga kotak, rasi bintang berlambang singa. Huruf depan L huruf belakang M.
Wiwid : Leo
Didit : Dudu.. Leo.. Tapi kok huruf mburine M? Pertanyaane salah iki. Diganti..
Wiwid : ?
Didit : Tiga kotak. Huruf depan L huruf belakang M. Nama lain perekat. LEM!

« Previous PageNext Page »


Yang Akan Segera Pendadaran

Segenap warga Ilmu Komputer UGM 2004 yang belum lulus (biarlah Tuhan yang menentukan)

Yang Menunggu Wisuda

1. Bayu Putra Pamungkas
2. Rezalino Zaini
3. Sari Anggraini
4. Willy Budi Martana

Yang Pernah Dipoto

ilkomp04-7

ilkomp04-6

ilkomp04-1

ilkomp04-3

ilkomp04-8

More Photos

Yang Tertulis di Pagechecker

Pages

 

November 2009
M T W T F S S
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30