Archive for March, 2009

Ucapan Terima Kasih

Kepada :

1. Ananda Landhes Bregas Manuhara, selaku fotografer.
2. Ananda Genta Wibowo, selaku fotografer juga.
3. Adinda Aulia Reza Rahmani, selaku.. Selaku apa ini? Asistennya Mas Landhes atau “asisten”-Mas Landhes.
4. Kampus MILAN UGM, selaku tuan rumah.
5. Segenap pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

Terima kasih atas kesediaannya mewujudkan salah satu impian Ilmu Komputer UGM 2004. Semoga mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat, untuk balasan di dunia mintalah kepada ketua angkatan Ilmu Komputer UGM 2004.

Advertisements

Sayembara

Tidak mau kalah dengan kegiatan perkuliahan, tayangan tipi dan kethoprak radio, kali ini akan diadakan semacam sayembara bagi pembaca setia blog ini. Tidak tersedia dua hadiah menarik dari admin bagi pemenang sayembara ini (pegimana mau ngasih hadiah kalau tidak ada sponsor, teman-teman yang sudah berpenghasilan, mana kontribusi kalian untuk blog ini? Dan bagi kalian yang belum lulus, lekaslah lulus. Kata Bu Dosen Afia, akreditasi Ilmu Komputer UGM terancam turun karena mahasiswa yang lulus tepat waktu kurang dari 20%. Hahay.. Kami kan masih cinta kampus, tega-teganya kalian mengusir kami.)

Begini kasusnya, perhatikan baik-baik dan cermati dengan seksama kata demi kata, huruf demi huruf atau Anda akan kehilangan fakta-fakta penting..

Tepat pada Hari Raya Nyepi 2009, Yani mendapatkan sebuah undangan dari rekan sekantornya di lab komputer FE UGM. Undangan pernikahan tepatnya. Karena malu datang kondangan sendiri, diajaknyalah tiga rekan sejawatnya untuk menemaninya menghadiri undangan pernikahan teman kantornya di daerah Muntilan. Tiga rekan yang beruntung itu adalah Septo, Sympati dan Wiwid.

Dikarenakan kondangan dilangsungkan di daerah Muntilan, maka rumah Wiwid yang berada di Jalan Magelang dijadikan tempat berkumpul empat orang itu dengan alasan efisiensi dan efektivitas.

Seperti biasa, meskipun efisiensi dan efektivitas dijadikan alasan namun tetap tidak bisa mendobrak adat istiadat yang sudah menahun dan berakar kuat di Ilmu Komputer UGM 2004 : Pantang berkumpul tepat waktu. Janjian jam sembilan pagi tetapi Sympati baru datang jam setengah sepuluh. Wiwid sendiri masih nongkrong di depan tipi.

Wiwid : Tak kirain nggak jadi..
Sympati : Anak-anak mana?
Wiwid : Justru itu Sym, anak-anak belum pada dateng, makannya tak kirain nggak jadi.

Jam 10 pagi Septo dan Yani baru tiba.

Wiwid : Jadi saya mbonceng Sympati?
Septo : Wah masak dikau tega motor Star ini dibawa sampai ke Muntilan. Kalau berangkatnya saya yakin bisa sampai ke Muntilan. Tapi pulangnya mungkin sudah jadi artefak, fosil. Maka dari itu gunakanlah Supramu W. Kalau perlu pakai mobil juga tiada mengapa.
Wiwid : Gembel, merepotkan.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, perang argumen sampai debat kusir, diputuskanlah tiga gembel itu diangkut dengan sedan yang dikemudikan oleh seorang sopir. Jogja memang panas akhir-akhir ini dan sangat tidak bijak apabila pergi ke Muntilan dengan naik motor. Di samping banyak polusi di jalan, teriknya sinar mentari yang menyapa bumi akan membuat kulit hitam. Belum lagi Yani yang bermotor dari Glagahsari sampai Jalan Magelang sudah bermandi keringat di sekujur tubuhnya, mau jadi apa kalau dia naik motor sampai ke Muntilan. Mungkin jadi tambang oli.

Septo : Kamu nggak nyumbang Yan?
Yani : Oh iya.. Mana duitnya ya.. xxx puluh ribu cukup nggak ya?
Septo : Wah kere dikau, malu-maluin aja. Kan dikau udah kerja Yani. Menguap kemana gajimu itu, sepengetahuanku belum ada gadis yang menjadi tanggungan dikau.
Yani : Beta memang sudah kerja, tapi gajinya tiada seberapa.
Septo : Ya udah, seadanya saja.
Sympati : Sep, pinjem duitmu dulu buat nyumbang.
Wiwid : Uang saya di dompet tinggal 50ribu, buat jaga-jaga kalau bensinnya habis. Jadi saya tidak ikut menyumbang saja. Maap. Lagi kere.
Septo : Oh tiada mengapa. Ngomong-ngomong mana amplopnya Yani?
Yani : Waduh, beta lupa.. Nanti beli saja.
Septo : Ah tiada perlu, daku ada kertas. Kita bikin saja amplopnya.

Septo mengeluarkan buku tulis dari tasnya kemudian menyobek selembar kertas yang dilipatnya sedemikian rupa sehingga menyerupai sebentuk amplop yang dipaksakan.

Yani : Hyaa.. Kok amplopnya bergaris. Mana ada amplop bergaris. Gila aja.
Septo : Adanya ini Yani, jangan protes.
Yani : Malu Septo.
Wiwid : Ya sudah cari warung saja, beli amplop yang lebih manusiawi.

Sebelum ke pesta pernikahan, disempat-sempatkanlah membeli amplop yang layak meskipun isinya sebenarnya kurang layak.

Septo : Perlu dikasih nama Yan?
Yani : Tidak perlu!

Selanjutnya yang terjadi di tempat kondangan tidak perlu dijelaskan secara rinci. Orang-orang dengan nafsu makan budak dihadapkan dengan sajian hidangan prasmanan. Tidak etis kalau kejadian berikutnya dijelaskan dengan terperinci. Aib!

Setelah puas memperturutkan hawa nafsunya, keempat orang tadi bingung.

Wiwid : Pulang kita?
Yani : Hyuuk..
Septo : Mumpung deket Borobudur mampir aja ke sana.
Wiwid : Ngapain? Panas, malas.
Sympati : Oh iya, kesana aja Wid. Aku ada perlu.
Yani : Hyuuk..

Mobil dipacu menembus jalanan beraspal. Tidak lama kemudian nampak sosok Candi Mendut.

Wiwid : Apa ke Candi Mendut saja, lebih sepi. Nggak capek, daripada ke Borobudur.
Sympati : Borobudur saja. Penting ini!

Beberapa saat kemudian.

Yani : Candi Mendutnya mana coy..?
Septo : Lu bego kagak ngerti. Itu tadi bangunan gede di sebelah kanan jalan emangnya apa Yan? Lu ngomong doang yang kota, pikiran kampung.
Yani : Oh iya to? Udah lewat to?

Sampai di pertigaan menjelang Candi Borobudur.

Wiwid : Ni depan lurus atau belok kanan?
Septo : Lurus aja..

Nampak Candi Borobudur di ujung jalan. Stupa puncaknya terlihat samar di sela-sela rimbunnya pepohonan.

Wiwid : Yakin jadi ke Borobudur? Masuk parkiran ni?
Septo : Yakin, masuk saja.
Sympati : Iya, sekalian aku mau survey untuk acara sekitar bulan Juli. Mumpung sudah sampai sini, sekalian.
Wiwid : Trus mana parkirannya.
Septo : Itu, depan masuk aja.

Mobil dibawa masuk ke parkiran Candi Borobudur. Petugas parkir sudah menunggu di gerbang parkiran.

Petugas parkir : Selamat siang, selamat datang di Candi Borobudur.
Wiwid : Bayarnya kapan Pak?
Petugas Parkir : Nanti di pintu keluar. Silakan masuk, nanti lurus trus parkiran mobil di sebelah kanan.

Sampai parkiran Wiwid masih ogah-ogahan beranjak dari jok mobil. Setelah dipaksa menuruti nafsu anak-anak terpaksalah ia berjalan bersama ketiga temannya ke tempat loket penjualan tiket.

Wiwid : Ndak usah masuk, panas. Mahal.
Septo : Mumpung udah di sini, sekalian masuk saja.
Yani : Tapi beta tiada bawa duit, duitnya sudah habis di kondangan tadi.
Septo : Santai, ada si bos Sympati.
Sympati : Bentar, tak survey dulu. Mau tanya harga tiket untuk rombongan.

Sympati bergegas mengantri di loket penjualan tiket sementara Wiwid masih bermalas-malasan masuk ke Borobudur. Yani yang semakin berkeringat karena melihat harga tiket yang cukup mencekik. Sedangkan Septo sibuk mengumpulkan recehannya sampai terkumpul uang sejumlah 7500 rupiah. Sesuai dengan daftar harga tiket yang tertera di loket penjualan.

Septo : Ni Sym, 7500. Buat beli tiket… Eh lha eh.. 7500 kok buat anak di bawah umur enam tahun. Di atas enam tahun.. 15ribu rupiah.

Sympati tidak mempedulikan Septo yang masih mengais recehan di setiap saku pakaiannya. Wiwid dan Yani masih ogah-ogahan sementara Sympati mulai mencari informasi.

Sympati : Mbak kalau mau ada kunjungan rombongan ada potongan biaya masuk nggak? Trus gimana prosedurnya?
Penjual Tiket : Oh, masnya nanya aja ke bagian informasi.
Sympati : Dimana mbak?
Penjual Tiket : Itu di dalam, masuk aja.

Sympati segera bergerak menuju bagian informasi yang letaknya ada di dalam kompleks candi. Untuk ke bagian informasi harus melewati pemeriksaan tiket.

Sympati : Mau ke bagian informasi pak.
Penjaga Pintu Masuk : Oh ya, silakan.

Sympati memberikan kode. Septo, Wiwid dan Yani segera menyusul jejak Sympati.

Septo, Wiwid, Yani : Ke bagian informasi juga pak.

Empat orang sukses masuk ke kompleks candi tanpa tiket.

Wiwid : Wah ini, kesempatan. Lumayan hemat 15ribu, kalo berempat bisa hemat 60ribu.
Septo : Betul, tepat sekali.
Wiwid : Eh, tapi ini tidak boleh, dosa namanya. Masuk neraka.
Septo : Biarkan Sympati yang menanggung dosanya, kecuali dikau mau turut menanggung beban dosanya.
Wiwid : Naudzubillahimindzalik, saya ikhlas Sympati menanggungnya.

Tanpa merasa berdosa, keempat orang itu melangkah pasti ke bagian informasi. Tidak ada tindakan dari pengurus setempat.
Di bagian informasi, Sympati dibantu ketiga rekannya mulai menjalankan modus operandinya : Pura-pura Survey.

Sympati : Eh, kayaknya ada yang membuntuti kita. Itu bapaknya yang lagi duduk di bangku.

Seorang lelaki yang berpakaian safari memang nampak duduk di sebuah bangku panjang yang terletak dekat bagian informasi. Sesekali matanya mengawasi gerak-gerik empat orang yang sedang mencari informasi di bagian informasi.

Sympati : Oh, gitu mbak. Kalo mau naik kereta itu gimana prosedurnya?
Petugas Informasi : Masnya nanya langsung aja ke sana.

Setelah dirasa cukup mendapatkan berbagai prosedur kunjungan di bagian informasi, Sympati dan rekan-rekannya segera berpindah tempat lagi menuju loket penjualan tiket kereta yang berada di dalam lingkungan kompleks candi. Seorang lelaki masih nampak mengawasi gerak-gerik mereka. Sympati memutar otak, bagaimana caranya agar mereka bisa lepas dari pengamatan lelaki tadi.

Sympati : Beli tiket keretanya empat mbak. Ayo naik, tapi yang di belakang saja, di gerbong yang ada di balik bangunan loket penjualan tiket kereta. Biar nggak keliatan.

Sympati memang melihat si lelaki agak mengendurkan pengintaiannya dan begitu melihat si lelaki mengalihkan pandangannya, mereka berempat segera menyelinap di balik tembok. Beberapa saat kemudian kereta mulai berjalan.

Yani : Tidak ada yang mengikuti kita kan.
Sympati : Jangan melihat ke arah pintu masuk.
Septo : Memangnya kenapa?
Yani : Tidak ada motor atau sepeda yang mengikuti kita kan?
Wiwid : Tidak ada Yani.

Kereta berjalan mengelilingi Candi Borobudur dan berhenti di bagian selatan candi.

Sympati : Sukses..

Dan apa yang terjadi berikutnya juga tidak perlu diceritakan secara mendetail. Intinya keempat orang ini hanya “survey”. Kalau ada yang menanyai : Kenapa tidak beli tiket? Jawabannya adalah : Survey.

Petualangan keempat orang itu terpaksa dihentikan karena Yani ada urusan mendadak.

Yani : Saudara beta ada yang meninggal. Harus cepat-cepat pulang untuk melayat.

Keempat orang itu kemudian kembali ke parkiran mobil. Tiap bertemu satpam, mereka memasang tampang tidak berdosa dan apabila terjadi penahanan, keselamatan diri ditanggung sendiri. Pura-pura tidak kenal.

Tidak ada petugas yang datang. Selamatlah mereka sampai ke parkiran mobil untuk segera kabur dari TKP.

Wiwid : Pintu keluarnya mana ya?

Wiwid sebagai sopir masih bingung berputar-putar di parkiran mencari pintu keluar.

Septo : Itu lurus aja, ada tulisan pintu keluar.

Di dalam mobil sepulang dari Candi Borobudur.

“Akhirnya setelah lebih dari 20 tahun, untuk pertama kalinya saya ke Borobudur”

Pertanyaan sayembaranya adalah :
Mengumpulkan dan menyimpan sementara pesan-pesan merupakan tugas…
a. front end processor
b. concentrator
c. controller
d. multiplexer

Eh maap, itu soal ujian SI milik Didit. Pertanyaan sayembara sebenarnya adalah:

“Siapakah diantara empat tokoh di atas yang baru pertama kali mengunjungi Candi Borobudur?”

a. Septo
b. Sympati
c. Wiwid
d. Yani
e. Semuanya belum pernah

Bagi yang terlibat dalam cerita ini dilarang keras mengikuti sayembara tanpa hadiah ini.

Insyaalloh

Selepas sepakbola Liga Himakom.

Septo : Jadi menurut hadis riwayat Mbuh Sapa dan Bukan Muslim.. Saya cuma menyampaikan apa yang diriwayatkan Didit.
Deni : Masuk neraka kowe Meng!
Didit : Insyaalloh, Insyaalloh Anda saya ajak juga.

Bertambahlah penghuni neraka.

Kompresor

Suatu malam di perempatan Mirota Kampus.

Wiwid : Dut, Jupiter MX yang kayak apa?
Didit : Sik ngarepe gede, ada kompresornya.

Motor atau pompa angin?

W.O.

Sepakbola di Lapangan Kentugan.

Pepe : Itu kipere Ilmu Komputer UGM 2006 siapa? Tinus? Kok nggak pernah keliatan? Sudah di W.O. po?
Angga : D.O.

Perekat

Suatu siang di kantin MILAN.

Didit : Tiga kotak, rasi bintang berlambang singa. Huruf depan L huruf belakang M.
Wiwid : Leo
Didit : Dudu.. Leo.. Tapi kok huruf mburine M? Pertanyaane salah iki. Diganti..
Wiwid : ?
Didit : Tiga kotak. Huruf depan L huruf belakang M. Nama lain perekat. LEM!